Minggu, 07 April 2013

Kurikulum Sastra Khusus Program Bahasa


89. Mata Pelajaran Sastra Indonesia untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) Program Bahasa

A.    Latar Belakang


Mata pelajaran Sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran sastra yang menyatakan bahwa belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran sastra Indonesia diarahkan kepada usaha  untuk menimbulkan pemahaman dan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia.

Standar kompetensi mata pelajaran Sastra Indonesia ini merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan bersastra, dan sikap positif terhadap sastra Indonesia. Standar kompetensi ini dimaksudkan agar peserta didik  terbuka terhadap beraneka ragam informasi tentang sastra yang hadir di sekitar kita, dapat menyaring yang berguna, dan menyadari akan eksistensi budayanya sehingga tidak tercabut dari lingkungannya. 

Dengan  standar kompetensi ini diharapkan:
1.      peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap karya sastra;
2.      guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi kesastraan peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan apresiasi sastra dan sumber belajar;
3.      guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya;
4.      orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kesastraan di sekolah;
5.      sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia;   
6.      daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.


B.     Tujuan
Sastra memungkinkan manusia mampu menjadikan dirinya sebagai manusia yang utuh, mandiri, berperilaku halus, bertoleransi dengan sesamanya, dan menghargai orang lain sesuai dengan harkat dan martabatnya. Oleh karena itu, pembelajaran  sastra Indonesia diarahkan kepada pembentukan peserta didik yang berpribadi luhur, memiliki pengetahuan kesastraan, dan bersikap positif dan apresiatif terhadap sastra Indonesia.
Mata Pelajaran Sastra Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1.      Memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
2.      Mengekspresikan dirinya dalam medium sastra  
3.      Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

 

C.    Ruang Lingkup


Ruang lingkup mata pelajaran Sastra Indonesia di SMA/MA Program Bahasa terdiri atas aspek kesastraan dan apresiasi sastra. Apresiasi sastra mencakup dua kegiatan  yang bersifat reseptif dan produktif. Keduanya berhubungan  dengan empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, menulis. Materi yang diberikan mencakup berbagai genre sastra, baik sastra modern maupun sastra klasik.  Untuk memperdalam pemahaman terhadap sastra, sampai akhir pendidikan di SMA/MA, peserta didik  sekurang-kurangnya telah membaca sepuluh buku sastra.






D. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Kelas XI, Semester 1

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1.      Memahami penokohan, dialog, dan latar dalam  pementasan drama

1.1 Mengidentifikasi  penokohan, dialog, dan latar dalam pementasan drama
1.2 Menganalisis kesesuaian penokohan, dialog, dan latar dalam pementasan drama  

Berbicara
2.      Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam kegiatan bercerita,  berdeklamasi, dan membawakan dialog drama

2.1 Menceritakan secara lisan narasi yang berasal dari cerita pendek atau novel yang pernah dibaca
2.2 Mendeklamasikan puisi dari berbagai angkatan dengan menggunakan volume suara dan irama yang sesuai
2.3 Mengekspresikan karakter para pelaku dialog drama melalui dialog yang dibawakan

Membaca
3.      Memahami cerita pendek, novel, dan hikayat


3.1 Menganalisis nilai-nilai  yang terdapat dalam cerita pendek   
3.2 Mengidentifikasi pelaku, peristiwa, dan latar dalam novel  
3.3 Mendeskripsikan relevansi hikayat dengan kehidupan sekarang
Menulis
4.      Mengungkapkan pengalaman   dalam puisi, cerita pendek, dan drama

4.1 Menulis puisi berdasarkan pengalaman atau pengamatan
4.2 Menulis cerita pendek berkenaan dengan kehidupan seseorang dengan sudut penceritaan orang ketiga
4.3 Menulis drama pendek berdasarkan cerita pendek atau novel

Kesastraan
5.      Menguasai komponen-komponen kesastraan dalam menelaah berbagai karya sastra

5.1 Mengaplikasikan komponen kesastraan teks naratif (pelaku dan perwatakan, plot dan konflik, latar, tema) untuk menelaah karya sastra naratif (cerpen, novel, hikayat)
5.2 Menggunakan komponen kesastraan teks drama (pelaku dan perwatakan, dialog dan perilaku, plot dan konflik) untuk menelaah karya sastra drama
5.3 Mengalisis puisi berdasarkan  komponen   bentuk puisi (bait, larik, rima, irama) dan isi (pengindraan, pikiran, perasaan, imajinasi) 



Kelas XI, Semester 2

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Mendengarkan
6.      Memahami kegiatan pementasan drama  


6.1 Menganalisis pementasan drama berkaitan dengan isi, tema, dan pesan  
6.2 Membuat resensi tentang drama yang ditonton

Berbicara
7.      Mengungkapkan pikiran,   perasaan, informasi, dan pengalaman melalui kegiatan bercerita,  bermain peran, dan berdiskusi  

7.1 Menceritakan kembali sastra lama (hikayat) dengan bahasa masa kini

7.2 Memerankan tokoh drama atau penggalan drama

7.3 Mengevaluasi teks drama atau pementasan drama dalam kegiatan diskusi

Membaca
8.      Memahami hikayat, novel, dan cerpen    

8.1 Membandingkan  penggalan hikayat dengan penggalan novel
8.2 Membandingkan naskah hikayat dengan cerpen
  
Menulis
9.      Mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman dalam kegiatan produksi dan transformasikan bentuk karya sastra

9.1 Mengarang cerpen berdasarkan realitas sosial
9.2 Menyadur cerpen ke dalam bentuk drama satu babak
9.3 Menggubah penggalan hikayat ke dalam cerpen
Kesastraan
10.  Menguasai komponen  kesastraan dalam teks drama dan perkembangan genre sastra Indonesia

10.1  Mengidentikasi  komponen kesastraan dalam teks drama
10.2  Menganalisis perkembangan genre sastra Indonesia





Kelas XII, Semester 1

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1.      Memahami  pembacaan puisi terjemahan

1.1 Menentukan tema serta amanat puisi terjemahan yang dibacakan  
1.2 Mengevaluasi puisi terjemahan  yang dibacakan  

Berbicara
2.      Mengapresiasi puisi lama  melalui kegiatan melisankan dan diskusi

2.1  Melisankan Gurindam XII untuk menemukan  nilai-nilai dan kekhasan dalam pengungkapan isi dan penggunaan diksi
2.2  Membandingkan puisi  Indonesia dengan  puisi terjemahan dalam hal penggunaan bahasa dan nilai-nilai estetika yang dianut

Membaca
3.      Memahami cerpen dan puisi melalui kegiatan membaca kritis

3.1  Menganalisis cerpen yang dianggap penting pada setiap periode untuk menemukan  standar budaya yang dianut masyarakat dalam periode tersebut
3.2  Menganalisis puisi yang dianggap penting pada setiap periode untuk menemukan  standar budaya yang dianut masyarakat  

Menulis
4.      Menguasai huruf Arab-Melayu untuk kegiatan transliterasi/transkripsi dan telaah naskah lama

4.1  Mengalihkan teks aksara Arab-Melayu ke dalam aksara Latin
4.2  Menulis kembali cuplikan  sastra Indonesia klasik dari teks berhuruf Arab-Melayu ke dalam huruf Latin

Kesastraan
5.      Memahami nuansa makna dalam nyanyian  dan karya sastra

5.1  Menganalisis nuansa makna dalam  nyanyian berbahasa Indonesia
5.2  Menulis karya sastra untuk majalah dinding dan buletin  

 

Kelas XII, Semester 2

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Mendengarkan
6.      Memahami puisi terjemahan yang dilisankan 


6.1  Menganalisis sikap penyair terhadap sesuatu hal yang terdapat dalam puisi terjemahan yang dilisankan
6.2 Menilai penghayatan penyair terhadap  puisi terjemahan yang dilisankan


Berbicara
7.      Membahas prosa naratif dan drama Indonesia warna lokal

7.1  Menjelaskan  tema, plot, tokoh, dan perwatakan ragam sastra prosa naratif Indonesia dan terjemahan dalam diskusi kelompok  
7.2  Mengomentari tokoh, perwatakan, latar, plot, tema, dan perilaku berbahasa dalam drama Indonesia yang memiliki warna lokal/daerah

Membaca
8.      Memahami tema, plot , tokoh, perwatakan, dan pembabakan, serta perilaku berbahasa dalam teks drama     


8.1  Menentukan tema, plot , tokoh, perwatakan, dan pembabakan, serta perilaku berbahasa  
8.2  Menilai tema, plot, tokoh, perwatakan, dan pembabakan, serta perilaku berbahasa teks dalam drama tradisional atau terjemahan   


Menulis
9.      Menulis esai  dan kritik sastra   

9.1  Mengetahui prinsip-prinsip penulisan kritik dan esai
9.2  Penerapan  prinsip-prinsip penulisan esai dalam penulisan  esai tentang cerita pendek karya sastra terjemahan
9.3  Penerapan  prinsip-prinsip penulisan kritik dalam penulisan  kritik tentang berbagai bentuk karya sastra Indonesia


Kesastraan
10.  Menguasai unsur drama dan teknik pementasan


10.1  Mementaskan drama karya sendiri dengan tema tertentu (pendidikan, lingkungan,dll.)
10.2  Menyusun dialog dalam pementasan drama satu babak dengan tema tertentu



  1. Arah Pengembangan

Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.

Kamis, 04 April 2013

Menulis Esai

A. Sejarah Esai
            Sejarah esai, mulai dikenal pada tahun 1500-an oleh seorang filsuf Perancis, Michel de montaigne. Beliau menulis sebuah buku yang mencantumkan beberapa anekdot dan observasinya, dan isinya bertujuan mengekspresikan pandangannya tentang kehidupan. buku tersebut berjudul Essais (terbit 1580). yang berarti attempts atau usaha.
           Sejak itu nama essai (Perancis) atau essay (Inggris), yang artinya upaya-upaya atau percobaan-percobaan - dan oleh sebab itu lebih bersifat sementara daripada bersifat pernyataan final - di sini bahkan sebagai nama bagi genre karangan sebagaimana kurang lebih ditulis oleh Michel de montaigne tersebut. Tak lama kemudian tahun 1600-an, Sir Francis Bacon mengikuti jejaknya menjadi esais Inggris pertama. Bukunya berjudul Essay. Bentuk, panjang, kejelasan, dan ritme kalimat dari esai ini menjadi standar bagi esais-esais sesudahnya. Ada beberapa esai yang formal, dan ada beberapa esai lain yang bersifat informal. Bentuk esai informal lebih mudah ditulis karena lebih bersifat personal, jenaka, dan dengan bentuk yang bergaya, struktur yang tidak terlalu formal, dan bertutur. bentuk esai formal lebih sering digunakan oleh para pelajar, pembelajar, dan peneliti untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Formal esai dibedakan dari tujuannya yang lebih serius, berbobot, logis, dan lebih panjang.
          Di Indonesia bentuk esai dipopulerkan oleh H.B. Jassin melalui tinjauan-tinjauannya mengenai karya-karya sastra Indonesia yang kemudian dibukukan (sebanyak empat jilid) dengan judul Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai (1985), tapi Jassin tidak bisa menjelaskan rumusan esai.

Bahasa